Menasehati sesama manusia bila ia berbuat salah wajib hukumnya sebagai umat muslim untuk saling mengingatkan. Menasehati itu memang baik, namun tak banyak orang  yang mengetahui bagaimana cara menasehati dengan benar, banyak yang justru orang yang dinasehati tersebut menjadi benci kepada kita yang menasehati jika cara tersebut salah.

Cara yang salah ketika menasehati orang adalah menasehati dia secara terang-terangan atau tidak ditempat yang sepi, tidak didepan banyak orang, sebab jika kita menasehati didepan banyak orang sama saja kita membuat dia malu. Maka dari itu jika akan menasehati seseorang kita harus liat situasi dan kondisi nya terlebih dahulu. Menasehati juga harus dengan cara yang ramah lembut jangan membentak apalagi dengan cara kasar yang akhirnya dia sakit hati sehingga dia membenci kita. Jangan sampai hal ini terjadi, yang tadinya kita mau berbuat baik , mencari pahala dengan cara menasehati orang , namun malah jadi dosa karena kita membuat hati orang yang kita nasihati menjadi sakit hati.  Lalu bagaimana cara menasehati dengan baik dan benar? Berikut cara nya

1.Ikhlaskan niat

Semata-mata untuk mengharapakan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang demikian ini berarti pemberi nasehat akan mendapatkan ganjaran dari Allah Jalla wa ‘Ala, sehingga Allah pun akan membantu engkau agar orang yang dinasehati diberikan hidayah oleh-Nya.

 2.Menasehati Secara Rahasia

Ini adalah adab yang kebanyakan dari kita tidaklah mengetahuinya. Perhatikanlah, bahwa penerima nasehat adalah orang yang sangat butuh untuk ditutupi segala keburukannya, dan diperbaiki kekurangan-kekurangannya. Maka, tidaklah nasehat akan mudah diterima bila disampaikan secara rahasia.Nasehat yang disampaikan di keramaian, sesungguhnya telah membantu setan untuk mencelakakan saudaranya. Yakni dengan mengumbar aib, kejelekan dan sifat-sifat buruknya di hadapan orang banyak. Maka perhatikanlah keadaan ini, bagaimana penerima nasehat akan menerima akan menerima nasehat anda, ketika itu penerima nasehat malah sibuk memikirkan bagaimana menangkis dan menangkal aib-aib dirinya yang telah diumbar oleh anda, dan tidak lagi memikirkan nasehat yang anda berikan

3.Memberi nasehat dengan Halus, Penuh Adab dan Lemah Lembut.

Hal ini dikarenakan memberi nasehat ibaratnya seperti membuka pintu. Sedangkan sebuah pintu tidak akan bisa dibuka kecuali dengan kunci yang pas & tepat. Maka pintu itu adalah hati, dan kuncinya adalah nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, santun, dan halus. Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam:

Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (HR. Muslim)

 4.Tidak Memaksa

Orang yang menasehati tidaklah berhak sama sekali untuk menerima nasehatnya. Karena pemberi nasehat adalah seseorang yang membimbing menuju kebaikan. Sehingga hak pemberi nasehat hanyalah menyampaikan dan memberi arahan saja. Seseorang yang meminta nasehatnya untuk ditaati dan diterima, maka ini hanyalah hak seorang penguasa atas rakyatnya. Jika seluruh pemberi nasehat seprti ini, maka niscaya semua masyarakat akan menjadi pemimpin. Lantas, siapakah yang akan menjadi rakyat?

5.Memilih Waktu yang Tepat untuk Memberi Nasehat

Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata:

Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (Al –Adab Asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)

6.MENASEHATI DENGAN ILMU BUKAN DENGAN PENDAPAT PRIBADI

Banyak terjadi diantara kita, yang menyampaikan kritik tanpa ilmu, sehingga keluarlah umpatan dan cemoohan yang sama sekali tidak berlandaskan ilmu bahkan jusru hal ini dilakukan diatas al-ahwa yang menyerupai perilaku syetan. pernah didapati sebuah forum literasi yang menghujat seorang anggotanya sebagai kritisi atas tulisan yang ia buat, dengan kata-kata yang sangat menyakiti dan menyinggung perasaan, dengan alasan ini sebagai spirit dan cambuk agar anggotanya bisa menulis lebih baik, hal ini tentu tidak dibenarkan secara syariat, karena didalam meng-kritik sebuah tulisan hendaknya dilakukan metode ilmiyah, bukan perkara pendapat pribadi, karena apabila sebuah tulisan dinilai dengan pandangan pribadi maka sungguh tidak ada satupun penulis yang lepas dari hujatan, karena diadili dengan pendapat masing-masing orang yang susah ditetapkan kebenarannya, dimana satu dengan yang lain memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Hendaknya didalam mengkritik sebuah tulisan diterapkan metode yang baik dengan memilah beberapa hal, tentang apa tulisan itu, menyimpang atau tidak dengan syariat, bagaimana penulisannya, dan lain sebagainya, dan mulailah menganalisa dengan adil, jika yang terjadi adalah sebuah tulisan yang menyimpang dari syariat maka kritik harus lugas dan tegas dengan menyertakan pelurusannya, tapi jika yang terjadi adalah kesalahan dalam typografinya, susunan katanya, tentu tidak pantas dengan disertai hujatan, karena setiap orang bisa saja melakukan kesalahan yang sama dan tidak mau diperlakukan demikian pula, cukup dengan menyampaikan tulisan tersebut masih perlu dibenahi dari sisi ini itu, tunjukkan pelurusannya tanpa menghinakan penulisnya, karena jika kita menghujatnya pun kita tidak memiliki landasan yang membenarkan hujatan tersebut dan justru berlebih-lebihan dan tidak adil.

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *